Ketika RSKO Jakarta Masuk Barak: Membentengi Prajurit dari Sisi Gelap Narkoba

komcad

Ketika RSKO Jakarta Masuk Barak: Membentengi Prajurit dari Sisi Gelap Narkoba

Pagi itu, suasana di Aula Yonif PIK 201/Jaya Yudha terasa berbeda. Bukan latihan fisik yang menjadi agenda utama. Bukan pula latihan strategi di lapangan.

Hari itu, yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang bisa masuk diam-diam.

Narkoba.

Selasa, 29 September 2026, Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta hadir di satuan Yonif PIK 201/Jaya Yudha.

RSKO Jakarta mengutus Intan Endang Sonatha, SKM, MKM dan Wage Robbiamsyah, SKM untuk memberikan penyuluhan mengenai Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba atau P4GN.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Yonif PIK 201/Jaya Yudha mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Sebanyak 100 prajurit TNI AD mengikuti kegiatan tersebut.

Permintaan kehadiran personel RSKO Jakarta sebelumnya disampaikan secara resmi oleh Yonif PIK 201/Jaya Yudha melalui surat permohonan bantuan personel.

Tujuannya jelas. Memberikan pemahaman tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA sekaligus memperkuat upaya pencegahan di lingkungan satuan.

…

Bukan Sekadar Bicara Narkoba

Materi yang dibawa RSKO Jakarta tidak berhenti pada daftar jenis narkoba. Penyuluhan justru mengajak peserta melihat persoalan dari sisi yang lebih dalam.

Tentang bagaimana NAPZA bekerja. Tentang bagaimana otak bisa dipengaruhi.

Dan tentang bagaimana sesuatu yang awalnya mungkin dianggap sebagai pengalaman sesaat dapat berubah menjadi ketergantungan.

Dalam materi penyuluhan disebutkan bahwa penyalahgunaan NAPZA dapat memengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku.

Dampaknya tidak hanya menyentuh kesehatan fisik. Gangguan psikologis, masalah sosial hingga risiko overdosis juga dapat muncul.

Inilah yang kemudian disebut sebagai “sisi gelap NAPZA.” Ada sisi yang mungkin terlihat menyenangkan pada awalnya.

Rasa rileks. Rasa senang. Perasaan tenang. Bahkan sensasi “high”.

Namun setelah itu bisa muncul kondisi sebaliknya, cemas, gelisah, sulit tidur, nyeri.Perasaan tidak nyaman.

Materi RSKO Jakarta menggambarkan kondisi tersebut seperti sebuah roller coaster. Untuk mendapatkan kembali rasa “high”, seseorang bisa kembali menggunakan zat tersebut.

Berulang. Lalu menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya, rasa nikmat yang dulu dicari justru berubah menjadi penderitaan.

…

Ketika Coba-Coba Mulai Berubah

Persoalan terbesar bukan selalu dimulai dari niat untuk menjadi pecandu. Kadang bermula dari rasa ingin tahu.

Coba-coba. Kemudian berulang. Lalu menjadi kebiasaan.

Dalam materi penyuluhan RSKO Jakarta, proses tersebut digambarkan melalui tahapan dari tidak pernah menggunakan atau abstinen, kemudian coba-coba, penggunaan reguler, kebiasaan, hingga ketergantungan.

Karena itu, pesan yang disampaikan bukan sekadar “jangan memakai narkoba”. Lebih jauh dari itu.

Pesannya adalah memahami bagaimana jebakan tersebut bisa terjadi. Sebab ketika seseorang sudah masuk terlalu jauh, persoalannya bukan lagi sekadar soal kemauan.

Ketergantungan NAPZA dalam materi tersebut dijelaskan sebagai penyakit otak yang tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dipulihkan.

…

Shabu, Alkohol hingga Ganja

Penyuluhan juga membahas sejumlah zat yang sering dikaitkan dengan penyalahgunaan.

Methamphetamine atau yang lebih dikenal sebagai shabu, misalnya. Zat ini termasuk stimulan. Efeknya dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf pusat.

Dalam penggunaan jangka panjang, materi RSKO Jakarta menjelaskan berbagai risiko serius, termasuk gangguan psikologis dan kerusakan otak.

Alkohol juga dibahas. Bukan karena semua pengguna alkohol otomatis mengalami ketergantungan, tetapi karena penyalahgunaan alkohol dapat menimbulkan berbagai masalah.

Mulai dari gangguan memori dan konsentrasi hingga meningkatnya risiko kecelakaan.. Sementara ganja dapat memengaruhi keterampilan motorik, persepsi, denyut jantung serta kondisi psikologis pengguna.

Pesannya sederhana. Jangan melihat narkoba hanya dari bentuk atau namanya. Pahami efeknya. Pahami risikonya.

Dan pahami bagaimana seseorang bisa kehilangan kendali ketika penggunaan berkembang menjadi ketergantungan.

…

Prajurit Juga Perlu Membentengi Diri

Lingkungan militer memiliki karakter yang khas. Disiplin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, ancaman narkoba tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Bisa melalui pergaulan. Bisa melalui bujukan. Bisa melalui tekanan.

Bahkan bisa melalui situasi yang awalnya terlihat biasa. Karena itu, materi RSKO Jakarta memberikan sejumlah langkah preventif, diantaranya ;

  • Bergaul dengan teman yang baik.
  • Membantu teman agar tidak terpengaruh.
  • Waspada terhadap tekanan, ancaman, pemaksaan maupun bujukan.
  • Dan menghindari tempat atau situasi yang rawan peredaran narkoba.

Ada pula pesan yang lebih personal “Jaga diri adalah harga diri”. Sebab menjaga diri dari narkoba bukan hanya tentang menyelamatkan kesehatan pribadi.

Tetapi juga menjaga masa depan. Menjaga keluarga. Menjaga lingkungan. Dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada seorang prajurit.

…

Dari Promotif ke Preventif

Kehadiran RSKO Jakarta di Yonif PIK 201/Jaya Yudha memperlihatkan bahwa upaya penanggulangan narkoba tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami masalah.

Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya. Pengetahuan menjadi salah satu benteng pertama.

Dalam materi P4GN, upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahayanya.

Karena itu, penyuluhan bukan sekadar acara seremonial. Ada pesan yang ingin ditinggalkan setelah aula kembali sepi.

Bahwa setiap orang memiliki pilihan untuk menjaga dirinya. Bahwa tekanan dari lingkungan bukan alasan untuk kehilangan kendali.

Dan bahwa keberanian tidak selalu berarti menghadapi musuh di medan latihan. Kadang keberanian justru terlihat ketika seseorang berani berkata:

“Tidak.”

Tidak pada ajakan.

Tidak pada coba-coba.

Tidak pada narkoba.

Materi RSKO Jakarta menutup penyuluhan dengan pesan yang sangat sederhana. Menggunakan NAPZA atau narkoba tidak memberikan keuntungan.

Risikonya dapat berujung pada kerugian kesehatan, ketergantungan bahkan kematian.

Karena itu, menjaga diri dan memahami bahwa diri sendiri berharga menjadi bagian penting dari pencegahan.

Hari itu, RSKO Jakarta tidak hanya datang membawa materi. RSKO Jakarta datang membawa pesan.

Bahwa perang melawan narkoba tidak selalu harus dimulai ketika seseorang sudah menjadi korban.

Perang itu bisa dimulai jauh lebih awal ; di ruang kelas, di aula, di lingkungan kerja, di keluarga.

Dan yang paling penting, dimulai dari keberanian untuk tidak pernah mencoba.